Ganti Busi, Jangan Nunggu Mati

Busi, kecil memang dah bahkan harga nya murah. Sebuah busi standard pabrikan rata-rata dibanderol belasa ribu rupiah saja. Tapi dilihat dari fungsinya, busi memiliki peranan besar dalam urusan pembakaran. Karena dia lah yang bertugas sebagai pemantik untuk membakar campuran angin dan bahan bakar, selain itu juga mentransfer panas keluar dari ruang bakar.

Tidak dipungkiri, sebagian dari kita mungkin baru akan ganti busi ketika muncul gejala mati atau bahkan sudah mati baru diganti. Umur busi standard rata-rata 5000-8000 km. Bukan berarti busi akan mati dalam kilometer segitu, tapi daya percik apinya sudah jauh berkurang drastis yang ujung-ujung nya pembakaran tidak sempurna dan pastinya boros bahan bakar.

Kiri: busi baru Kanan: busi bekas

Pagi tadi sebelum berangkat touring ke Pemalang, pas T-CLOCS, lha kok menemukan kondisi busi seperti gambar di atas. Ya maklum sih, klo ga salah udah berumur kira-kira 7000-an km. Ujung elektrona dah terkikis dan jarak nya sudah melebar. Sebenarnya mudah aja, tinggal digetok lagi biar jaraknya lebih rapat. Tapi berhubung saya punya busi baru buat cadangan, ya dah pasang aja. Karena asumsi saya dengan kondisi busi spt mungkin pengapian sudah tidak maksimal. Lha wong busi juga murah.

TDR Ballistic 285

Saya pake busi Platinum TDR Ballistic dengan kode seri 285 untuk pio. Harga 27rb. Dan di pio saya, dengan busi ini meraih rpm 8000-9000 sangat mudah dibanding busi standard pio.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Silahkan berkomentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.